Summer Rain
Oleh: Zulfaa Khoirunnissa
“Cinta bisa
datang secara tiba-tiba ke siapa saja, seperti hujan di musim panas ini. Suara
dari rintikan hujan terdengar sangat keras, hingga membuat tidurku tidak
nyenyak. Kamu seperti hujan bagiku.”
Yerin Jung adalah namaku. Aku gadis asal
Busan Korea Selatan. Tetapi sejak lulus SMP aku pindah ke Seoul, karena Ayahku
pindah tugas atas pekerjaannya. Aku menyukai hujan. Karena hujan adalah
kenangan. Kenangan yang mempunyai cerita indah pada masanya. Kenangan yang
membuatku teringat oleh sesosok pria yang tinggi dan hangat. Kenangan yang
tidak bisa aku lupakan begitu saja. Aku menunggu sosok itu.
Apakah dia akan kembali?
20 Agustus
2014
“Wah
pagi hari yang cerah, aku rasa hari ini tidak akan turun hujan.” ucapku lalu
melihat kearah payung bewarna kuning bergambar pikachu.
“Maafkan aku pikachu, aku rasa aku tidak
membutuhkanmu dan kau harus istirahat hari ini.” Kataku sembari tersenyum ke arah
benda kesayanganku.
“Ibu, aku berangkat dulu ya!” kataku sedikit
berteriak.
Akan tetapi tidak ada jawaban dari Ibu. Mungkin dia
sedang menjemur pakaian di halaman belakang sehingga suaraku yang merdu dan
sedikit cempreng ini tidak terdengar olehnya.
Aku melangkahkan kakiku dengan penuh
semangat. Sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke sekolah. Setibanya di gerbang
sekolah, tiba-tiba langit tampak bewarna kelabu seakan akan ingin menumpahkan
isinya. Tetesan-tetesan air dari langit kelabu itu turun ke bawah membasahi
halaman sekolah. Aku mempercepat langkahku. Tetesan tetesan air itu semakin
cepat turun seirama dengan kecepatanku melangkah. Jarak dari gerbang menuju
gedung sekolah lumayan jauh, akhirnya aku berlari sekencang-kencangnya sambil
memejamkan mataku karena tetesan tetesan air ini semakin deras.
“Brukk!”.
“Akhh...” rintihku.
“Sialan! sepertinya aku menabrak tiang bendera.”
Ucapku dalam hati. Aku mengelus kepalaku yang sakit akibat tabrakan tadi.
“Nona, apakah kau baik baik saja?”. Terdengar suara
pria yang lembut dan sumber suara itu dekat denganku.
“Hah?” Aku membuka mataku perlahan.
Dan ternyata tiang bendera itu hidup! Ah maksudku
ternyata aku menabrak pria bertubuh tinggi. Dia mengulurkan tangannya di tengah
hujan deras ini. Aku meraih tangannya yang besar kemudian berdiri secara
perlahan. Tiba-tiba dia menarik tanganku dan menuntunku sambil berlari menuju
gedung sekolah.
“Apakah kau baik baik saja nona?” tanya pria itu.
Aku hanya mengangguk dengan ragu.
“Maafkan aku, aku tidak melihat ke arah depan
sehingga aku menabrakmu.” Kataku sambil sedikit membungkuk ke arahnya.
“Tidak apa apa, lain kali kau harus berhati-hati.”
Jawabnya singkat.
Kemudian pria itu mengambil sesuatu dari tasnya. Dia
memberiku sebuah handuk kecil kemudian dia pergi meninggalkan aku. Dia terlihat
dingin, namun sangat peduli terhadap orang disekitarnya. Aku tersenyum
menatapnya melangkah pergi. Jujur saja menurutku dia tampan dan dia orang baik.
Sepertinya aku jatuh cinta kepadanya.
Keesokan harinya ada pertandingan basket
di sekolahku. Aku tidak sabar melihat pria-pria anggota tim basket yang katanya
‘tampan’. Aku duduk di tribun bersama Eunha temanku. Eunha adalah teman
pertamaku di sekolah ini. Karena aku orang baru di Seoul dan aku juga termasuk
murid baru kelas 1 di sekolah menengah atas ini. Pertandingan pun di mulai. Aku
melihat Eunha sangat antusias.
“Hei kau sangat bersemangat sekali.” Ucapku sambil
melihat tingkah laku Eunha.
“Tentu saja, karena aku suka pria tampan dan bertubuh
tinggi, hehehe.” jawabnya.
“Aigoo.. dasar kau ini.”
Kami melihat pertandingan tersebut lalu mataku
tertuju pada sosok pria yang bertubuh tinggi.
“Bukankah dia...” ucapku pelan sambil memperhatikan
pria bertubuh jangkung tersebut.
Ya dia adalah pria yang aku tabrak kemarin. Ternyata
dia seorang anggota tim basket di sekolah ini. Pantas saja tubuhnya tinggi
sehingga aku mengiranya tiang bendera.
“Lihatlah dia sangat tampan, bahkan cara dia bermain
bola basket pun terlihat sempurna.” Gumamku sambil memperhatikan dia.
Sepertinya aku jatuh cinta kepadanya untuk yang
kedua kali.
Waktu terus berlalu, kini pertandingan
sudah berakhir, tim pria tampan itu menang. Aku pun ikut senang. Sepertinya dia
adalah senior yang baik. Ketika aku hendak pulang sekolah, tetesan tetesan air
jatuh lagi dari langit kelabu. Kali ini tetesan tetesan air itu sangat deras
melebihi kemarin. Bukankah ini musim panas? Kenapa hujan turun secara
tiba-tiba?. Hujan di musim panas ini seperti perasaanku yang tiba-tiba jatuh
cinta kepada pria itu.
“Huft.. baiklah karena aku tidak membawa payung
pikachu kesayanganku, aku akan menunggu hujan ini sampai reda.” Kataku dengan
perasaan sedikit kecewa.
30 menit berlalu, hujan ini belum berhenti juga
namun tidak terlalu deras lagi. Aku mendengar langkah kaki seseorang kemudian
aku menoleh ke arah belakang dan melihat sesosok pria. Pria itu membawa sebuah payung
ditangannya. Perlahan-lahan dia semakin mendekat ke arahku.
“Apakah dia akan berbagi payung denganku?” Ucapku
dalam hati.
Dan ternyata benar. Dia adalah pria tampan itu.
Karena sekolah sudah sepi, dia mengajakku untuk pulang bersama. Melewati hujan
dengan payung biru besar miliknya. Suasana yang sangat tenang saat pulang
sekolah. Hawa yang dingin namun terasa hangat ketika bersamanya. Rintikan hujan
di musim panas yang terus berjatuhan seolah-olah tidak ingin berhenti. Aku
memandangi wajahnya diam-diam kemudian tersenyum kecil. Sepertinya aku jatuh
cinta kepadanya untuk yang ketiga kali.
Kami berdua berhenti di sebuah cafe
untuk menghangatkan diri. Kami berdua memesan dua cangkir Hot Chocholate yang menjadi menu andalan di cafe ini. Kami berdua
saling memperkenalkan diri. Pria itu bernama Sehun Oh. Dia adalah seorang murid
kelas 2 SMA. Menurut informasi yang ku dapat, dia cukup populer dan banyak
dikagumi para wanita di sekolah kami. Seolah-olah dia adalah bintang di SMA.
Rintikan air hujan berhenti, aku berpamitan pulang kepadanya. Malam harinya aku
curhat dengan Eunha lewat telepon genggam miliku. Aku membahas pertemuanku
dengan Kak Sehun.
“Wah kau sungguh luar biasa Yerin! Ah
aku sangat iri.. bagaimana bisa kau bertemu pria setampan itu, bahkan aku
sempat mengaguminya saat pertandingan tadi, tetapi karena kau telah dekat
dengannya, aku akan mundur dan mencari pria yang lebih tampan darinya, hihihi.”
Kata Eunha dengan centil lewat telepon genggamnya.
“Yah dia memang tampan, tapi ketampanan dia bukan
hal utama yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Dia adalah sosok yang baik.
Meskipun banyak yang berprasangka bahwa dia itu bad boy karena ekspresinya yang cuek.” Ucapku.
Kami terus berbincang-bincang sampai aku merasa lelah
dan mulai mengantuk.
Semakin hari, aku dan Kak Sehun semakin
dekat. Banyak yang mengira kami berpacaran. Padahal kenyataannya tidak,
walaupun aku jatuh cinta padanya tapi pertemananku dengannya sudah cukup
membuatku senang. Sudah 1 bulan aku berteman dengan Kak Sehun. Hari-hariku
selalu dihiasi oleh dia. Ketika dia sedang latihan basket, aku melihatnya dari
kejauhan dan menyemangatinya sambil berteriak di tribun. Sepertinya banyak
wanita di sekolah ini yang iri kepadaku karena aku bisa dekat dengan Kak Sehun.
Kak Sehun tipe orang yang dingin tapi sebenarnya dia sangat peduli kepada orang
lain. Tampangnya memang terkesan dingin, cuek, dan jutek. Sehingga orang-orang
sudah berprasangka buruk terlebih dahulu sebelum mengenalnya dan hanya bisa
mengagumi dia karena parasnya yang tampan serta bakatnya dalam bidang basket
dan Bahasa Inggris. Saat aku kesulitan mengerjakan soal Bahasa Inggris, dia
selalu membantuku. Dia memang pintar Bahasa Inggris dan pernah mendapat juara 1
lomba debat Bahasa Inggris antar sekolah. Kadang aku mengajaknya makan bersama
saat istirahat, karena dia suka menyendiri saat makan. Canda dan tawa sudah
sering kami lakukan. Kisah ku dengan Kak Sehun begitu manis sehingga membuatku
tak bisa lepas darinya.
Musim
panas masih berlangsung. Suatu hari saat pulang sekolah, tetesan-tetesan air
jatuh lagi dan sialnya aku tidak membawa payung pikachu kesayanganku. 30 menit
kemudian, datanglah Kak Sehun dari arah belakangku. Dia membawa payung biru
besar miliknya.
“Apakah dia akan berbagi payung denganku lagi?
Ucapku dalam hati.
Dan ternyata benar. Kami pulang bersama melewati
hujan dengan payung besar bewarna biru miliknya. Suasana inil lah yang paling
aku suka saat bersamanya. Di tengah perjalanan tiba-tiba dia berhenti berjalan
kemudian menoleh ke arahku. Aku melihatnya dengan tatapan bingung seperti ada
sesuatu yang ingin disampaikan. Dia menghela nafas perlahan kemudian mulai
berbicara.
“Yerin... Aku.....” ucapnya pelan dan sedikit ragu.
“Ada apa?” jawabku penasaran.
Apakah dia akan menyatakan cinta kepadaku? Ya aku
harap begitu, namun..
“Yerin, aku akan pergi ke London.” Ucapnya dengan
singkat dan jelas.
Mataku terbelalak kaget. Aku bingung saat itu. Entah
apa yang harus aku lakukan pada saat itu. Sungguh hatiku tidak rela dia pergi,
walaupun aku dan Kak Sehun hanya berteman tapi hati ini seakan akan melarang
dia untuk pergi. Aku terdiam sesaat dan menunduk. Tiba-tiba dia memelukku
dengan erat. Pelukannya yang hangat membuat tetesan-tetesan air jatuh. Namun
tetesan-tetesan air ini berbeda. Tetesan-tetesan air ini jatuh dari mataku. Aku
mulai berbicara.
“Kapan kau akan pergi?” tanyaku dengan nada sedih.
“Besok pagi.” Jawabnya singkat.
“Secepat itukah?” aku menatapnya dengan nanar.
Dia terdiam lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
“Mengapa kau pergi ke London?” tanyaku lagi.
“Itu cita-citaku sejak kecil, aku mendapat beasiswa
di sana, dan aku tidak bisa menolaknya begitu saja.” Jawabnya.
“Maafkan aku Yerin.” Lanjutnya.
Aku terdiam sejenak saat itu. Lalu dia melanjutkan
perkataannya lagi.
“Maafkan aku karena ini secara tiba-tiba. Dan jujur
saja berat juga untuk meninggalkanmu. Sebenarnya aku menyayangimu Yerin. Selama
ini aku menganggapmu teman dan jika kita berpacaran aku takut kau akan
membenciku dan beranggapan bahwa aku lelaki yang tidak bertanggung jawab. ”
ucapnya.
Tetesan-tetesan air dari pelupuk mataku jatuh lagi.
Dengan refleks aku memeluknya erat.
“Aku juga menyayangimu Kak Sehun. Tidak apa-apa jika
ini cita-citamu, jangan khawatirkan aku, dan teruslah berusaha dengan apa yang
kau cita-citakan. Aku juga akan berjuang meraih cita-citaku sepertimu!” Kataku
sambil tersenyum kecil kepadanya.
Dia hanya tersenyum kemudian mencium keningku.
“Pulanglah, bawa payungku ini. Bawa terus agar kau
tidak kehujanan walaupun di musim panas ini karena hujan suka datang dengan tiba-tiba
dan juga agar kau tidak kepanasan. Anggaplah payung itu adalah aku yang selalu
menjagamu.” Ucapnya sambil tersenyum kearahku.
Perlahan-lahan dia mulai menjauh dariku dan pergi
meninggalkan aku. Aku menatapnya yang perlahan-lahan semakin menghilang.
Sepertinya aku jatuh cinta lagi kepadanya untuk yang kesekian kalinya.
Sudah tiga tahun lamanya. Aku telah
lulus SMA. Kini, aku melanjutkan pendidikanku di sebuah perguruan tinggi negeri.
Pergaulan di perguruan tinggi memang lebih bebas dibandingkan pergaulan di SMA.
Aku dan Eunha kuliah di perguruan tinggi yang sama, yaitu di Seoul University.
Aku mengmbil jurusan Sastra Inggris, entah mengapa aku tertarik dengan jurusan
ini. Mungkin supaya aku bisa pergi ke luar negeri seperti London? Hehe.
Sedangkan Eunha memilih jurusan Ekonomi. Mungkin supaya dia bisa memajukan
perekonomian negeri ini hehehe.
Ketika aku pulang kuliah, tetesan-tetesan
air dari langit yang awalnya biru sekarang menjadi sedikit kelabu jatuh
membasahi tanah negeri ginseng ini. Padahal sekarang musim panas. Aku baru
ingat, payung biru besarku yang selalu aku bawa, tertinggal di kelas. Aku memutuskan
untuk berteduh di halte bis terdekat dan menunggu hujan reda. 30 menit telah
berlalu, aku melihat sekeliling jalanan dan tiba-tiba mataku tertuju pada
seorang pria tinggi seperti tiang bendera yang sudah lama aku kenal. Dia
membawa payung besar, warnanya bukan biru tetapi pink. Wajahnya tidak asing
bagiku. Namun dia sedikit berbeda sekarang. Kini dia jauh lebih tampan! Setelah
sekian lama tidak bertemu, sekarang aku melihatnya kembali. Perlahan-lahan dia
mendekatiku dan tersenyum seperti malaikat.
“Apakah dia akan berbagi payung denganku?” ucapku
dalam hati sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar