Hitam
Oleh: Zulfaa_Kh
Suasana
yang ramai, padat, dan berisik sudah menjadi makanan sehari-hariku. Sebuah
tempat yang menjadi rumah keduaku. Sebuah tempat yang memiliki banyak
penghuninya. Sebuah tempat untuk mencari nafkah. Sebuah tempat untuk
mendapatkan rezeki. Dan sebuah tempat yang memiliki banyak kenangan yang dapat
dijadikan 1001 kisah. Bangunan yang berumur tua ini masih sangat produktif.
Isinya terdapat ratusan kios. Setiap kios, berbeda-beda ukuran dan benda yang
diperjualkan.
Kiosku
yang dulunya hanya berukuran 3x2 meter itu, kini menjadi 4x3 meter. Barang
daganganku yang dulunya berupa kain, kini menjadi pakaian. Kios ini adalah warisan dari
ibu mertuaku, sebuah amanah untukku ketika berdagang di sini. Ketika anak
terakhirku masih kecil, aku sering membawanya ke sini sampai dia berumur 6
tahun. Sekarang, dia menginjak usia 17 tahun. Terkadang, sepulang sekolah ia ke
sini menemaniku berdagang, kemudian
pulang bersama.
Jarum
jam pendek mengarah ke
tenggara, waktunya siap-siap untuk tutup dan pulang ke rumah.
"Bu, mau tutup?" ucap
anak terakhirku sambil melihatku memasukan pakaian yang digantung di luar ke
dalam kios.
"Iya,
sudah sore sudah sepi pula," jawabku sambil terus
memindahkan pakaian.
"Hmm.. tapi aku masih ingin
di sini, hehe. Aku tidak tahu mengapa ingin lama-lama di
sini." sambil
memanyunkan bibir mungilnya.
"Heh,
memang kau mau di sini sendirian?
Oh iya Adel ingin
kado apa? Ibu
lupa memberi kado," kataku
sambil memandangi gadis cantik di sebelahku.
"Ya
tidak juga lah hehe, heum..
Adel ingin kerudung, Bu. Kerudung putih agar bisa dipakai di sekolah."
"Yasudah, setelah ini Ibu belikan ya," sambil tersenyum. Aku
menutup kiosku dan bersiap-siap pulang bersama Adel.
Kami
melangkah menuju kios yang menjual bermacam-macam kerudung. Pemilik kios itu
adalah temanku sendiri yang berbeda 10 tahun denganku. Aku membelikan kerudung
putih untuk Adel. Ekspresinya senang sama seperti anak kecil yang diberikan es
krim oleh orang tuanya.
"Selamat
ulang tahun sayang," ucapku sambil tersenyum dan
memeluknya sebentar.
"Terima kasih Bu." sambil
membalas senyum dan membalas pelukanku.
Kami
melangkah keluar pasar, kemudian
menunggangi becak untuk pulang.
"Adel
akan merindukan pasar."
ucapnya dengan
ekspresi agak sedih. Aku hanya diam karena tidak mengerti perkataannya.
Senja
pun telah tenggelam oleh karena waktu,
kemudian digantikan oleh
cahaya rembulan. Tapi langit masih belum menggelap. Langit masih biru dan lama
kelamaan warnanya mulai gelap, semakin biru tua, hingga
hampir menghitam. Hitam?
"Ibu! Ibu!" teriak
suara lelaki yang bersumber dari ruang tengah rumahku. Kemudian ia memasuki kamarku
yang letaknya di bagian
belakang.
"Ibu! Ibu!" teriaknya
lagi. Teriakannya menunjukan kepanikan bukan amarah.
"Kenapa?"
Aku menutup Al-Qur'an pertanda selesai mengaji.
"Ada
apa? Mengapa kau terlihat panik begitu?" tanyaku
sambil melepas mukenah yang kukenakan.
"Pasar
Plered kebakaran Bu!
Istri Adi baru saja
menelfon Adi, katanya mulai kebakaran 15 menit
yang lalu!" jawabnya
yang masih berekspresi panik.
Mendengar
ucapan Adi anak pertamaku membuat jantungku berdetak kencang. Lebih dari kaget,
rasanya jantungku ingin copot. Hal yang mendadak terjadi ini terulang lagi.
Kejadian yang biasanya kulihat di televisi, kini terjadi padaku dan di
daerahku. Ini bukan yang pertama kali pasar di daerahku terbakar. Sebelum ibu
mertua mewariskan kiosnya padaku, pernah terjadi kebakaran juga sekitar 20
tahun yang lalu.
"Innalillahi
wainaillaihirojiun... Ayo Di antar Ibu ke sana sekarang!"
Aku
langsung memakai kerudung dan jaket. Kemudian pergi ke pasar bersama Adi dengan
menaiki motor.
Jalan
raya begitu padat oleh kendaraan. Kendaraan di jalan raya itu seakan tidak mau
bergerak dan menetap pada posisinya masing-masing. Aku dan Adi berhenti di
kantor pos karena kami tidak bisa menerobos jalan. Kami berlari menuju pasar
yang terbakar. Bagian depan pasar masih belum terbakar. Kami masuk ke dalam
pasar yang warnanya sudah agak menghitam. Gelap. Langkah kami hanya diterangi
oleh senter yang ada di gawai milik Adi. Pikiranku saat itu hanya untuk
menyelamatkan barang dagangan sebelum disantap oleh si jago merah. Bagian kanan
kiosku sudah dilahap api. Aku mengambil apa pun barang daganganku yang masih
bisa diselamatkan. Adi membantuku sambil terbatuk-batuk akibat asap yang
mengepul di sekitar kami.
"Bu!
Ibu tolong saya Bu!" seorang ibu-ibu yang
sama sepertiku meminta bantuan untuk menyelamatkan barang dagangannya juga dari
si jago merah.
Kali
ini aku tak acuh karena diriku sendiri terkena musibah. Aku mementingkan diriku
sendiri. Tak sempat aku memedulikan orang lain karena keadaan yang darurat seperti
ini. Aku dan Adi terus memindahkan barang dari kios sampai ke seberang jalan,
tepatnya di depan toko aksesoris. Sampai kiosku dilahap habis oleh si jago merah,
kami berhenti. Kami beristirahat sambil menjaga barang dagangan yang telah
diselamatkan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kekacauan terjadi.
Tempat yang ramai, padat, dan berisik itu kini sudah mati. Si jago merah dengan
rakusnya memakan bangunan tempa tmencari nafkah itu. Tempat itu
menjadi gelap. Hitam. Tak berpenghuni. Cahaya api tidak dapat membuat kehitaman
menjadi sirna tetapi membuatnya menjadi semakin hitam. Aku tidak sanggup lagi
melihat kekacauan itu. Aku dan Adi memindahkan barang dagangan menuju kantor
pos tempat diparkirkannya motor kami dengan dibantu oleh beberapa
bapak-bapak. Tiga
becak, membawa barang daganganku menuju rumah.
Setelah
aku meninggalkan tempat yang sudah lenyap itu, aku membereskan barang
daganganku di rumah. Walaupun tidak semua barang dagangan aku selamatkan, aku
masih bersyukur karena masih bisa berusaha mencari nafkah lagi. Beberapa
tetangga mengunjungi rumahku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Ya aku
pikir ini baik-baik saja toh ini hanya barang dagangan yang merupakan titipan
Tuhan. Rezeki pun sudah diatur oleh-Nya. Kepada siapa lagi jika sesuatu bukan kembali
kepada-Nya? Maka aku ikhlaskan kejadian ini. Suamiku memasang ekspresi yang
sedih dan berpasrah diri kepada Tuhan. Ia tidak bisa membantuku karena sedang
sakit. Kemudian mataku mendapati sosok Adel yang sedang terisak di sofa ruang
tengah. Di sebelahnya ada Andra yang sedang menenangkan adik satu-satunya itu.
Aku
menghampiri kedua anak gadisku yang sedang bersedih atas peristiwa kebakaran
pasar itu.
"Del,
sudah jangan menangis. Ini cobaan
dari Allah, ini peringatan dari Allah supaya kita tidak lupa atas
kenikmatan Allah yang beri
kepada kita," Andra mencoba
menenangkan Adel.
"Tapi
Kak, mengapa bisa terjadi?! Adel masih tidak rela, banyak kenangan
Adel di situ. Waktu kecil sudah
seperti anak pasar!" isak
tangisnya masih belum reda. Andra hanya terdiam dan menghela nafas.
"Del,
memang benar apa yang dikatakan oleh
Andra. Jangan bersedih
lagi ya sayang. Ibu
juga sedih tapi mau bagaimana
lagi? ini kan sudah menjadi kehendak Allah," aku
mencoba menenangkan anak bungsuku ini.
"Bu, sejak awal perasaan Adel ketika pulang sekolah dan
menuju pasar itu sudah
tak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Dan di
pasar, Adel pun merasa ingin
lama-lama di sana. Ketika meninggalkan pasar pun seperti merasa kehilangan. Mungkin ini
kedengarannya
agak berlebihan, tapi ini lah yang di rasa Adel. Adel kasihan dengan pedagang pasar yang
kehilangan harta dagangannya di situ. Apalagi sekarang mau menjelang bulan puasa
yang pasti banyak pedagang yang berbelanja barang dengan banyak. Di tempat
itu juga banyak sekali kenangan,
waktu kecil Adel bermain
di situ, makan di situ, mandi di situ, bahkan tidur pun di situ sudah seperti rumah kedua. Adel
merasa kebakaran pasar bukan 'terbakar' tapi 'dibakar'," air matanya jatuh
lagi membahasi pipi chubbynya. Aku pun terdiam dan memang ada benarnya perkataan Adel itu.
Adel pun melanjutkan perkataannya.
"Menurut Adel, penyebab arus
pendek listrik itu hanya
alasan saja untuk menutupi penyebab
sebenarnya! Jika
memang benar ada oknum yang membakar..
itu sudah kelewatan! Di mana hati
nuraninya? Membakar pasar yang sudah menjadi
sumber rezeki hanya untuk kepentingan golongan tertentu? Benar-benar bukan
manusia!"
"Pasar
tradisional yang memang terlihat tidak
beraturan, semerawut, kotor, bau, mungkin banyak yang menganggap remeh. Banyak
yang bilang kampungan lah, tak
level lah, apa lah itu. Tapi bagi Adel di tempat itu banyak kenangan dan merupakan sumber pendapatan. Ayah sakit, Kakak Andra kuliah, Adel
masih sekolah, apa biaya hidup kita akan cukup? Belum lagi kalau Adel kuliah
nanti, pasti akan
berat beban hidup kita. Adel sakit hati." ia berhenti berbicara
dan melanjutkan tangisnya. Aku pun
membuka suara.
"Adel,
jangan bersedih. Kalaupun ada
oknum jahat seperti
yang Adel bicarakan,
yasudah biarkan saja toh mereka akan menanggung dosa
mereka sendiri di akhirat nanti.
Kerugian pasar hingga
bermiliar-miliar itu, tidak akan sebanding dengan dosa yang mereka perbuat.
Ibu akan berusaha lagi
berdagang dengan modal seadanya. Insya Allah, biaya hidup kita tercukupi. Rezeki tidak hanya dari hasil
berjualan saja,
sumber rezeki itu banyak. Mulai sekarang Adel harus rajin belajar, rajin shalat, mengaji, dan jangan
lupa bersedekah. Mulai lebih
dekat lagi kepada Allah. Harta yang kita punya itu hanya titipan Allah, ada
saatnya titipan itu kembali kepada sang pemilik sesungguhnya. Ibu juga sebenarnya pasrah dan sedih. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha bangkit,
jika sudah menjadi kehendak-Nya. Jangan sampai hati kita menjadi hitam akibat dengki, ikhlaskan saja dan yakinkan jika Allah punya rencana yang lain yang baik untuk kita.
Kita bisa hidup seperti biasa." ucapku lembut sambil tersenyum.
Adel
pun tersenyum kembali dan menghentikan tangisnya. Andra memelukku, disusul oleh
Adi dan suamiku untuk
berpelukan. Sesuatu yang terbakar kemudian menghitam sudah menjadi hukum alam.
Berbeda dengan hati yang terbakar kemudian menjadi hitam yang harus dipadamkan
dengan kerohanian, yaitu
dengan mengingat kuasa Allah,
serta mendekatkan diri kepada-Nya.
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar