Jumat, 29 Juni 2018

[CERPEN #2] HITAM


Hitam
Oleh: Zulfaa_Kh

Suasana yang ramai, padat, dan berisik sudah menjadi makanan sehari-hariku. Sebuah tempat yang menjadi rumah keduaku. Sebuah tempat yang memiliki banyak penghuninya. Sebuah tempat untuk mencari nafkah. Sebuah tempat untuk mendapatkan rezeki. Dan sebuah tempat yang memiliki banyak kenangan yang dapat dijadikan 1001 kisah. Bangunan yang berumur tua ini masih sangat produktif. Isinya terdapat ratusan kios. Setiap kios, berbeda-beda ukuran dan benda yang diperjualkan.

Kiosku yang dulunya hanya berukuran 3x2 meter itu, kini menjadi 4x3 meter. Barang daganganku yang dulunya berupa kain, kini menjadi pakaian. Kios ini adalah warisan dari ibu mertuaku, sebuah amanah untukku ketika berdagang di sini. Ketika anak terakhirku masih kecil, aku sering membawanya ke sini sampai dia berumur 6 tahun. Sekarang, dia menginjak usia 17 tahun. Terkadang, sepulang sekolah ia ke sini menemaniku berdagang, kemudian pulang bersama.

Jarum jam pendek mengarah ke tenggara, waktunya siap-siap untuk tutup dan pulang ke rumah.
"Bu, mau tutup?" ucap anak terakhirku sambil melihatku memasukan pakaian yang digantung di luar ke dalam kios.
"Iya, sudah sore sudah sepi pula," jawabku sambil terus memindahkan pakaian.
"Hmm.. tapi aku masih ingin di sini, hehe. Aku tidak tahu mengapa ingin lama-lama di sini." sambil memanyunkan bibir mungilnya.
"Heh, memang kau mau di sini sendirian? Oh iya Adel ingin kado apa? Ibu lupa memberi kado," kataku sambil memandangi gadis cantik di sebelahku.
"Ya tidak juga lah hehe, heum.. Adel ingin kerudung, Bu. Kerudung putih agar bisa dipakai di sekolah."
"Yasudah, setelah ini Ibu belikan ya," sambil tersenyum. Aku menutup kiosku dan bersiap-siap pulang bersama Adel.
Kami melangkah menuju kios yang menjual bermacam-macam kerudung. Pemilik kios itu adalah temanku sendiri yang berbeda 10 tahun denganku. Aku membelikan kerudung putih untuk Adel. Ekspresinya senang sama seperti anak kecil yang diberikan es krim oleh orang tuanya.
"Selamat ulang tahun sayang," ucapku sambil tersenyum dan memeluknya sebentar.
"Terima kasih Bu." sambil membalas senyum dan membalas pelukanku.
Kami melangkah keluar pasar, kemudian menunggangi becak untuk pulang.
"Adel akan merindukan pasar." ucapnya dengan ekspresi agak sedih. Aku hanya diam karena tidak mengerti perkataannya.

Senja pun telah tenggelam oleh karena waktu, kemudian digantikan oleh cahaya rembulan. Tapi langit masih belum menggelap. Langit masih biru dan lama kelamaan warnanya mulai gelap, semakin biru tua, hingga hampir menghitam. Hitam?
"Ibu! Ibu!" teriak suara lelaki yang bersumber dari ruang tengah rumahku. Kemudian ia memasuki kamarku yang letaknya di bagian belakang.
"Ibu! Ibu!" teriaknya lagi. Teriakannya menunjukan kepanikan bukan amarah.
"Kenapa?" Aku menutup Al-Qur'an pertanda selesai mengaji.
"Ada apa? Mengapa kau terlihat panik begitu?" tanyaku sambil melepas mukenah yang kukenakan.
"Pasar Plered kebakaran Bu! Istri Adi baru saja menelfon Adi, katanya mulai kebakaran 15 menit yang lalu!" jawabnya yang masih berekspresi panik.
Mendengar ucapan Adi anak pertamaku membuat jantungku berdetak kencang. Lebih dari kaget, rasanya jantungku ingin copot. Hal yang mendadak terjadi ini terulang lagi. Kejadian yang biasanya kulihat di televisi, kini terjadi padaku dan di daerahku. Ini bukan yang pertama kali pasar di daerahku terbakar. Sebelum ibu mertua mewariskan kiosnya padaku, pernah terjadi kebakaran juga sekitar 20 tahun yang lalu.
"Innalillahi wainaillaihirojiun... Ayo Di antar Ibu ke sana sekarang!"
Aku langsung memakai kerudung dan jaket. Kemudian pergi ke pasar bersama Adi dengan menaiki motor.

Jalan raya begitu padat oleh kendaraan. Kendaraan di jalan raya itu seakan tidak mau bergerak dan menetap pada posisinya masing-masing. Aku dan Adi berhenti di kantor pos karena kami tidak bisa menerobos jalan. Kami berlari menuju pasar yang terbakar. Bagian depan pasar masih belum terbakar. Kami masuk ke dalam pasar yang warnanya sudah agak menghitam. Gelap. Langkah kami hanya diterangi oleh senter yang ada di gawai milik Adi. Pikiranku saat itu hanya untuk menyelamatkan barang dagangan sebelum disantap oleh si jago merah. Bagian kanan kiosku sudah dilahap api. Aku mengambil apa pun barang daganganku yang masih bisa diselamatkan. Adi membantuku sambil terbatuk-batuk akibat asap yang mengepul di sekitar kami.
"Bu! Ibu tolong saya Bu!" seorang ibu-ibu yang sama sepertiku meminta bantuan untuk menyelamatkan barang dagangannya juga dari si jago merah.
Kali ini aku tak acuh karena diriku sendiri terkena musibah. Aku mementingkan diriku sendiri. Tak sempat aku memedulikan orang lain karena keadaan yang darurat seperti ini. Aku dan Adi terus memindahkan barang dari kios sampai ke seberang jalan, tepatnya di depan toko aksesoris. Sampai kiosku dilahap habis oleh si jago merah, kami berhenti. Kami beristirahat sambil menjaga barang dagangan yang telah diselamatkan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kekacauan terjadi. Tempat yang ramai, padat, dan berisik itu kini sudah mati. Si jago merah dengan rakusnya memakan bangunan tempa tmencari nafkah itu. Tempat itu menjadi gelap. Hitam. Tak berpenghuni. Cahaya api tidak dapat membuat kehitaman menjadi sirna tetapi membuatnya menjadi semakin hitam. Aku tidak sanggup lagi melihat kekacauan itu. Aku dan Adi memindahkan barang dagangan menuju kantor pos tempat diparkirkannya motor kami dengan dibantu oleh beberapa bapak-bapak. Tiga becak, membawa barang daganganku menuju rumah.

Setelah aku meninggalkan tempat yang sudah lenyap itu, aku membereskan barang daganganku di rumah. Walaupun tidak semua barang dagangan aku selamatkan, aku masih bersyukur karena masih bisa berusaha mencari nafkah lagi. Beberapa tetangga mengunjungi rumahku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Ya aku pikir ini baik-baik saja toh ini hanya barang dagangan yang merupakan titipan Tuhan. Rezeki pun sudah diatur oleh-Nya. Kepada siapa lagi jika sesuatu bukan kembali kepada-Nya? Maka aku ikhlaskan kejadian ini. Suamiku memasang ekspresi yang sedih dan berpasrah diri kepada Tuhan. Ia tidak bisa membantuku karena sedang sakit. Kemudian mataku mendapati sosok Adel yang sedang terisak di sofa ruang tengah. Di sebelahnya ada Andra yang sedang menenangkan adik satu-satunya itu.

Aku menghampiri kedua anak gadisku yang sedang bersedih atas peristiwa kebakaran pasar itu.
"Del, sudah jangan menangis. Ini cobaan dari Allah, ini peringatan dari Allah supaya kita tidak lupa atas kenikmatan Allah yang beri kepada kita," Andra mencoba menenangkan Adel.
"Tapi Kak, mengapa bisa terjadi?! Adel masih tidak rela, banyak kenangan Adel di situ. Waktu kecil sudah seperti anak pasar!" isak tangisnya masih belum reda. Andra hanya terdiam dan menghela nafas.
"Del, memang benar apa yang dikatakan oleh Andra. Jangan bersedih lagi ya sayang. Ibu juga sedih tapi mau bagaimana lagi? ini kan sudah menjadi kehendak Allah," aku mencoba menenangkan anak bungsuku ini.

"Bu, sejak awal perasaan Adel ketika pulang sekolah dan menuju pasar itu sudah tak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Dan di pasar, Adel pun merasa ingin lama-lama di sana. Ketika meninggalkan pasar pun seperti merasa kehilangan. Mungkin ini kedengarannya agak berlebihan, tapi ini lah yang di rasa Adel. Adel kasihan dengan pedagang pasar yang kehilangan harta dagangannya di situ. Apalagi sekarang mau menjelang bulan puasa yang pasti banyak pedagang yang berbelanja barang dengan banyak. Di tempat itu juga banyak sekali kenangan, waktu kecil Adel bermain di situ, makan di situ, mandi di situ, bahkan tidur pun di situ sudah seperti rumah kedua. Adel merasa kebakaran pasar bukan 'terbakar' tapi 'dibakar'," air matanya jatuh lagi membahasi pipi chubbynya. Aku pun terdiam dan memang ada benarnya perkataan Adel itu. Adel pun melanjutkan perkataannya.

"Menurut Adel, penyebab arus pendek listrik itu hanya alasan saja untuk menutupi penyebab sebenarnya! Jika memang benar ada oknum yang membakar.. itu sudah kelewatan! Di mana hati nuraninya? Membakar pasar yang sudah menjadi sumber rezeki hanya untuk kepentingan golongan tertentu? Benar-benar bukan manusia!"

"Pasar tradisional yang memang terlihat tidak beraturan, semerawut, kotor, bau, mungkin banyak yang menganggap remeh. Banyak yang bilang kampungan lah, tak level lah, apa lah itu. Tapi bagi Adel di tempat itu banyak kenangan dan merupakan sumber pendapatan. Ayah sakit, Kakak Andra kuliah, Adel masih sekolah, apa biaya hidup kita akan cukup? Belum lagi kalau Adel kuliah nanti, pasti akan berat beban hidup kita. Adel sakit hati." ia berhenti berbicara dan melanjutkan tangisnya. Aku pun membuka suara.

"Adel, jangan bersedih. Kalaupun ada oknum jahat seperti yang Adel bicarakan, yasudah biarkan saja toh mereka akan menanggung dosa mereka sendiri di akhirat nanti.  Kerugian pasar hingga bermiliar-miliar itu, tidak akan sebanding dengan dosa yang mereka perbuat. Ibu akan berusaha lagi berdagang dengan modal seadanya. Insya Allah, biaya hidup kita tercukupi. Rezeki tidak hanya dari hasil berjualan saja, sumber rezeki itu banyak. Mulai sekarang Adel harus rajin belajar, rajin shalat, mengaji, dan jangan lupa bersedekah. Mulai lebih dekat lagi kepada Allah. Harta yang kita punya itu hanya titipan Allah, ada saatnya titipan itu kembali kepada sang pemilik sesungguhnya. Ibu juga sebenarnya  pasrah dan sedih. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha bangkit, jika sudah menjadi kehendak-Nya. Jangan sampai hati kita menjadi hitam akibat dengki, ikhlaskan saja dan yakinkan jika Allah punya rencana yang lain yang baik untuk kita. Kita bisa hidup seperti biasa." ucapku lembut sambil tersenyum.

Adel pun tersenyum kembali dan menghentikan tangisnya. Andra memelukku, disusul oleh Adi dan suamiku untuk berpelukan. Sesuatu yang terbakar kemudian menghitam sudah menjadi hukum alam. Berbeda dengan hati yang terbakar kemudian menjadi hitam yang harus dipadamkan dengan kerohanian, yaitu dengan mengingat kuasa Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya.


-Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[CERPEN #2] HITAM

Hitam Oleh: Zulfaa_Kh Suasana yang ramai, padat, dan berisik sudah menjadi makanan sehari-hariku. Sebuah tempat yang menjadi rumah k...